Artikel Terbaru

  • Hukum Berhutang Untuk Berkurban

    Apa Hukum berkurban dan apakah boleh seseorang berhutang untuk berkurban?

    Asy-Syaikh Al-Utsaimin menjawab, “(hukum) berkurban adalah sunnah muakkadah bagi orang yang mampu. Bahkan sebagian ahlul ilmi menyatakan, hukum berkurban adalah wajib. Di antara ulama yang berpendapat wajib adalah Abu Hanifah dan pengikutnya ­–semoga Allah merahmati mereka, juga dalam satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal –semoga Allah merahmati beliau-. Dan pendapat ini yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah merahmati beliau-. Atas dasar ini maka tidak sepantasanya bagi orang yang mampu untuk tidak berkurban.

    Adapun orang yang tidak memiliki uang, maka tidak sepantasanya dia berhutang hanya untuk berkurban, karena hutang akan membebani dirinya, sedangkan dia tidak tahu apakah mampu untuk membayar hutang itu atau tidak?! Akan tetapi bagi orang yang mampu maka jangan meninggalkan berkurban karena itu adalah sunnah.

    Dan hakekat berkurban adalah (1 ekor) mencukupi seorang (yang berkurban) dan keluarganya, ini yang sunnah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau dahulu menyembelih satu ekor domba dengan niat dari beliau dan keluarga beliau. Dan seseorang jika menyembelih satu ekor domba dengan niat dari dirinya dan keluarganya, maka hal itu sudah mencukupi bagi keluarganya yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Sehingga tidak perlu berkurban khusus untuk keluarga yang telah meninggal sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang, dimana mereka mengkhususkan kurban untuk keluarga yang telah meninggal tapi membiarkan diri-diri mereka dan keluarga yang hidup tidak berkurban.

    Adapun berkurban bagi orang yang telah meninggal jika itu adalah wasiat darinya maka harus dilaksanakan wasiat tersebut. Wallahu ‘alam.

    Sumber: http://warisansalaf.com/2014/09/24/fatawa-kurban-3-hukum-berhutang-untuk-berkurban-berkurban-dengan-kerbau-dan-mana-yang-afdhal-antara-kambing-dan-sapi/

    Bolehkah Berkurban Menggunakan Uang Pinjaman

    Min fadhlik .. Bolehkah berkurban dengan uang hasil pinjaman ?

    Jawaban:
    Berikut ini penjelasan para ulama terkait dengan pertanyaan tersebut:

    Dalam masalah ini ada dua pendapat dari para ulama;

    ◾️PENDAPAT PERTAMA: Membolehkan perkara tersebut. Diantara mereka Abu Hatim –rahimahullah–, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dari Sufyan Ats-Tsauri.

    Sufyan ats-Tsauri —rahimahullah_ mengatakan,
    “Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta kurban. Beliau ditanya: “Apakah kamu berhutang untuk membeli unta kurban?” Beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman:
    لَكُمْ فِيهَا خَيْر

    _“Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).” (Al Hajj:36)._
    [Lihat Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36 (5/426)]

    Kemudian diantaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiah –rahimahullah–, beliau berkata dalam Majmu'ul Fatawa (26/307): “Seorang yang memiliki hutang boleh berkurban jika dia tidak diminta untuk (segera) melunasinya. Dan (boleh pula) seseorang berhutang untuk berkurban jika dia memiliki kemampuan untuk membayarnya”. (Selesai)

    Asy-Syekh Bin Baz –rahimahullah– juga membolehkan hal tsb, beliau berkata: “Tidak mengapa seorang muslim berhutang dalam rangka menyembelih kurban, jika dia memiliki kemampuan untuk membayar hutang tersebut. [Majmu' Fatawa ibn Baz (18/38)]

    ◾️PENDAPAT KEDUA: Menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang sebelum berkurban.
    Diantara mereka adalah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah–. Beliau menjelaskan, “Jika seseorang memiliki hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutangnya daripada berkurban”.[ Syarhul Mumti’ (7/423) ]

    Pada hakekatnya kedua pendapat tsb masih bisa digabungkan:

    ✅Pendapat pertama yang menyarankan berhutang ketika kurban adalah bagi orang yang mampu dan mudah baginya untuk melunasi hutang. Sehingga dia bisa tetap berkurban dan membayar hutangnya.

    ✅Adapun pendapat kedua yang menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang daripada kurban adalah bagi orang yang kesulitan ekonomi, sehingga kesulitan dalam melunasi hutang. Sehingga ketika berkurban dia tetap tidak bisa membayar hutangnya.
    Wallahu a’lam

    Dikumpulkan oleh al-Ustadz Abdul Hadi Pekalongan hafidzahullah | WA AFCO

     

    Selengkapnya
  • Apabila Hari Raya Ied Bertepatan Dengan Hari Jum'at

    Jika Ied Bertepatan Pada Hari Jum'at

     

    Oleh: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah

    Pertanyaan : Jika datang ‘Idul Fithri pada hari Jum’at apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun aku tidak shalat Jum’at, atau sebaliknya?

    Jawab :
    Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at maka barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘id berjama’ah bersama imam gugur darinya kewajiban menghadiri shalat Jum’at, dan hukumnya bagi dia menjadi sunnah saja. Apabila dia tidak menghadiri shalat Jum’at maka tetap wajib atasnya shalat zhuhur. Ini berlaku bagi selain imam.

    Adapun imam, tetap wajib atasnya untuk menghadiri Jum’at dan melaksanakannya bersama kaum muslimin yang hadir. Shalat Jum’at pada hari tersebut tidak ditinggalkan sama sekali. (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan VIII/44)

    Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta Fatwa no. 2358

    Pertanyaan :
    Pada tahun ini bertemu dalam sehari dua hari raya, yaitu : Hari Jum’at dan ‘Idul Adh-ha. Manakah yang benar : Kita tetap melaksanakan shalat zhuhur jika kita tidak shalat Jum’at, ataukah kewajiban shalat zhuhur gugur apabila kita tidak shalat Jum’at?

    Jawab :
    Barangsiapa yang melaksanakan shalat ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka dia diberi rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at pada hari tersebut, kecuali imam. Adapun imam, tetap wajib atasnya menegakkan shalat Jum’at bersama kaum muslimin yang hadir shalat Jum’at, baik yang sudah shalat ‘Id maupun tidak shalat ‘Id. Apabila tidak ada seorang pun yang hadir, maka gugurlah kewajiban Jum’at darinya, dan dia melaksanakan shalat Zhuhur.

    (Para ‘ulama yang berpendapat demikian) berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami berkata :

    « شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم قال: أشهدت مع رسول الله ﷺ عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم، قال: فكيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل، »

    Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Apakah engkau menyaksikan bersama Rasulullah ﷺ dua ‘Id bertepatan pada satu hari?” Zaid menjawab, “Ya.” Mu’awiyah bertanya lagi, “Bagaimana yang beliau lakukan?” Zaid menjawab, “Beliau mengerjakan shalat ‘Id kemudian memberikan rukhshah (keringanan) untuk shalat Jum’at. Beliau mengatakan, Barangsiapa yang hendak mengerjakan shalat (Jum’at), maka silakan mengerjakan shalat (Jum’at).” [1]

    Juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya juga dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda :

    « قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون »

    Telah terkumpul pada hari kalian ini dua ‘Id. Barangsiapa yang mau maka itu sudah mencukupinya dari shalat Jum’at. Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id). [2]

    Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa rukhshah (keringanan) tersebut untuk shalat Jum’at bagi barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘Id pada hari tersebut.

    Sekaligus diketahui bahwa tidak berlaku rukhshah bagi imam, karena sabda Nabi ﷺ dalam hadits tersebut, “Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).” Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma :

    « أن النبي ﷺ كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »

    “Bahwa Nabi ﷺ dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).”

    Barangsiapa yang tidak menghadiri shalat Jum’at bagi yang telah menunaikan shalat ‘Id, maka tetap wajib atasnya untuk shalat Zhuhur, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban shalat Zhuhur bagi yang tidak shalat Jum’at.

    وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

    Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta, Ketua: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Wakil Ketua: ‘Abdurrazzaq ‘Afifi, Anggota: ‘Abdullah bin Ghudayyan, Anggota: Abdullah bin Qu'ud.

    Adapun dalam fatwa 2140, Al-Lajnah menyatakan sebagai berikut :

    Apabila ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka gugur kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang telah menunaikan shalat ‘Id. Kecuali bagi imam, kewajiban shalat Jum’at tidak gugur darinya. Terkecuali apabila memang tidak ada orang yang berkumpul/hadir (ke masjid) untuk shalat Jum’at.

    Di antara yang berpendapat demikian adalah adalah : Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam An-Nakha’i, Al-Imam Al-Auza’i. Ini adalah madzhab shahabat ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Sa’id, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhum dan para ‘ulama yang sependapat dengan mereka.

    Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah

    Pertanyaan :
    Apa hukum shalat Jum’at jika bertepatan dengan hari ‘Id, apakah wajib menegakkannya atas seluruh kaum muslimin, ataukah hanya wajib atas sekelompok tertentu saja? Karena sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at berarti tidak ada shalat shalat Jum’at.

    Jawab :
    Tetap wajib atas imam dan khathib shalat Jum’at untuk menegakkan shalat Jum’at, hadir ke masjid, dan shalat berjama’ah mengimami orang-orang yang hadir di masjid. Karena dulu Rasulullah ﷺ menegakkan shalat Jum’at pada hari ‘Id, beliau ‘alahish shalatu was salam melaksanakan shalat ‘Id dan shalat Jum’at.

    Terkadang beliau dalam shalat ‘Id dan shalat Jum’at sama-sama membaca surat Sabbihisma dan surat Al-Ghasyiyah, sebagaimana dikatakan oleh shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat yang shahih dari beliau dalam kitab Shahih (Muslim).

    Namun bagi orang yang yang telah melaksanakan shalat ‘Id, boleh baginya untuk meninggalkan shalat Jum’at dan hanya melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya atau berjama’ah dengan beberapa orang saudaranya, apabila mereka semua telah melaksanakan shalat ‘Id.

    Apabila dia melaksanakan shalat Jum’at berjama’ah maka itu afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Namun apabila ia meninggalkan shalat Jum’at, karena ia telah melaksanakan shalat ‘Id, maka tidak mengapa, namun tetap wajib atasnya melaksanakan shalat Zhuhur, baik sendirian ataupun berjama’ah. Wallahu Waliyyut Taufiq

    (Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XII/341-342)

    Dalam fatwanya yang lain, ketika beliau mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa jika ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id gugur kewajiban shalat Jum’at dan shalat Zhuhur sekaligus, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan :

    “Ini juga merupakan kesalahan yang sangat jelas. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas hamba-hamba-Nya shalat 5 waktu dalam sehari semalam, dan kaum muslimin telah berijma’ atas kewajiban tersebut. Yang kelima pada hari Jum’at adalah kewajiban shalat Jum’at. Hari ‘Id apabila bertepatan dengan hari Jum’at termasuk dalam kewajiban tersebut. Kalau seandainya kewajiban shalat Zhuhur gugur dari orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id niscaya Nabi ﷺ akan mengingatkan hal tersebut. Karena ini merupakan permasalahan yang tidak diketahui oleh umat. Tatkala Nabi ﷺ memberikan rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat ‘Id dan tidak menyebutkan gugurnya kewajiban shalat Zhuhur, maka diketahui bahwa kewajiban (shalat Zhuhur) tersebut masih tetap berlaku. Berdasarkan hukum asal dan dalil-dalil syar’i, serta ijma’ (kaum muslimin) atas kewajiban shalat 5 waktu dalam sehari semalam.

    Dulu Nabi ﷺ tetap melaksanakan shalat Jum’at pada (hari yang bertepatan dengan) hari ‘Id, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dari shahabat An-Nu’man bin Basyir :

    « أن النبي ﷺ كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »

    “Bahwa Nabi ﷺ dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (''Id dan Jum'at'').

    Adapun apa yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Az-Zubair bahwa beliau melaksanakan shalat ‘Id kemudian tidak keluar lagi baik untuk shalat Jum’at maupun shalat Zhuhur, maka itu dibawa pada kemungkinan bahwa beliau memajukan shalat Jum’at, dan mencukupkan dengan itu dari mengerjakan shalat ‘Id dan shalat Zhuhur.

    Atau pada kemungkinan bahwa beliau berkeyakinan bahwa imam pada hari tersebut memiliki hukum yang sama dengan yang lainnya, yaitu tidak wajib keluar untuk melaksanakan shalat Jum’at, namun beliau tetap shalat Zhuhur di rumahnya.

    Kemungkinan mana pun yang benar, kalau pun taruhlah yang benar dari perbuatan beliau bahwa beliau berpendapat gugurnya kewajiban shalat Jum’at dan Zhuhur yang sudah shalat ‘Id maka keumuman dalil-dalil syar’i, prinsip-prinsip yang diikuti, dan ijma’ yang ada bahwa wajib shalat Zhuhur atas siapa yang tidak shalat Jum’at dari kalangan para mukallaf, itu semua lebih dikedepankan daripada apa yang diamalkan oleh Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu.

    (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XXX/261-262)

    Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

    Kenyataannya masalah ini terdapat perbedaan di kalangan ‘ulama rahimahumullah. Pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh As-Sunnah, bahwa:

    ▪️Kita katakan, Apabila hari Jum’at bertepatan dengan ‘Id maka engkau wajib shalat ‘Id.
    Barangsiapa yang telah melaksanakan shalat ‘Id, maka bagi dia bebas memilih apakah dia mau hadir shalat Jum’at bersama imam, ataukah ia shalat Zhuhur di rumahnya.

    ▪️Kedua, tetap wajib mengadakan shalat Jum’at di suatu negeri/daerah. Barangsiapa yang hadir maka dia shalat Jum’at, barangsiapa yang tidak hadir maka dia shalat Zhuhur di rumahnya.

    ▪️Ketiga, pada hari itu shalat Zhuhur tidak dilaksanakan di masjid, karena yang wajib dilaksanakan adalah shalat Jum’at, sehingga tidak dilakukan shalat Zhuhur (di masjid).

    Inilah pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh dalil-dalil As-Sunnah. (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb – Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

    [1] HR. Ahmad (IV/372), Abu Dawud 1070, An-Nasa`i 1591, Ibnu Majah 1310. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Madini, Al-Hakim, dan Adz-Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud – Al-Umm no. 981. (pent)

    [2] HR. Abu Dawud 1073, Ibnu Majah 1311. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud – Al-Umm no. 983.

    Sumber: http://www.darussalaf.or.id/fiqih/apabila-hari-raya-ied-bertepatan-dengan-hari-jumat/

    Selengkapnya
  • Konsep Cinta Hakiki dari Renungan Kisah Julaibib

    Kisah Nyata Julaibib dan Istrinya Radhiallohu 'anhum.

    Akhi... tahukah engkau tentang konsep cinta hakiki? Mungkin selama ini, realita saat ini, konsep cinta yang sering kita saksikan identik dengan uang, intrik, putus-nyambung yang tak jelas, romantis dan air mata yang dipaksakan, perceraian, perselingkuhan, retak, ruwet, menyakitkan, buta, dan gelap. Konsep-konsep cinta yang indah dan penuh dinamika perjuangan hanya ada dalam film, sinetron, novel, cerita fiksi, bayangan kawula muda, khayalan pujangga, dan dendangan para penyair. Konsep cinta pun seolah menyakitkan. Pahit. Atau, indah dalam khayalan.

    Maka, jika engkau bertanya, adakah konsep cinta hakiki dalam dunia nyata, inilah jawabannya! Inilah kisah yang memuat konsep cinta hakiki, terlahir dari relung hati, tanpa paksaan, dan terikat benang Ilahi.

    Kisah ini bermula saat Rasulullahﷺ iba melihat salah seorang shahabatnya. Julaibib namanya. Ia adalah manusia yang tak pernah dirasakan keberadaannya, meskipun di zaman shahabat sekalipun. Perawakannya kerdil. Warnanya bagaikan arang. Wajahnya diungkapkan dalam bahasa Arab dengan lafaz "damim". Artinya bukan sekedar buruk rupa. Tapi buruk rupa yang mengerikan. Karenanya orang-orang tak berminat berdekat-dekat dengannya. Bahkan sekedar untuk mengingatnya. Apalagi menanyakan kabarnya. Atau merasakan segala gejolaknya. Keberadaannya bagaikan tiada. Ia itu miskin, kusut, dan tak memiliki nasab yang jelas. Ia terasing, walau di negri sendiri. Meskipun di zaman terbaik, zaman shahabat._

    Rasa iba Rasulullahﷺ menjadi berkuadrat karena Julaibib tak pernah memerdulikan keterasingannya. Ia acuh atas sikap manusia kepadanya. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara memenuhi panggilan Allah ﷻuntuk shalat. Bagaimana cara memenuhi panggilan Rasulullah ﷺuntuk berjihad. Itu saja!

    Hingga akhirnya, rasa iba menggerakkan kaki Rasulullahﷺ yang mulia untuk berkunjung ke rumah salah seorang shahabat Anshari.

    "Sahabat, maukah engkau nikahkan putrimu?" tanya Rasulullahﷺ.

    "Sungguh!? Betapa mulianya tawaran darimu, duhai Rasulullahﷺ," jawab Anshari.

    "Namun bukan untukku."

    "Lantas?"

    "Sahabatku. Julaibib."

    Mendengar nama Julaibib, Anshari bagaikan terserang demam tingkat tinggi. Lesu bukan main. Semangat nan riang yang tadi terpancar indah dari wajahnya seolah menjadi mendung dan gelap. Saking gelapnya, ia sampai tak sadar bahwa yang meminang untuk Julaibib Rasulullahﷺ sendiri.

    Padahal, apakah pantas rekomendasi Rasulullahﷺ ditolak? Begitulah. Bukan salah Anshari juga Istrinya nanti. Namun karena jeleknya image Julaibib sampai membuat Anshari lupa bahwa yang datang meminang adalah Rasulullahﷺ sendiri. Dan kemungkinan besarnya Allahﷻ mengampuni shahabat tadi. Sebab kesalahan seseorang saat batinnya tidak karuan, seperti terlalu gembira, terlampau sedih, begitu tertekan, dan semisalnya akan diampuni oleh Allah. Terlebih ia juga istrinya adalah shahabat Rasulullahﷺ. Bukankah orang yang saking gembiranya berkata,

    "Ya Allah, Engkau hambaku sedang aku adalah rabb-Mu" diampuni oleh Allah!?

     

    Rasulullahﷺ pun manusia bijak bestari. Beliau paham shahabatnya. Memang butuh ketegaran sebesar-besarnya untuk menerima Julaibib masuk ke dalam anggota keluarganya. Makanya, saat Anshari berkata, "Bolehkah aku musyawarahkan kepada ibunya terlebih dahulu, wahai Rasulullah, “tentu” ekspresi pesimis Rasulullahﷺ mengiyakan dan pamit pulang.

     "Hah! Julaibib!? Aneh!" teriak sang istri Anshari mendengar berita yang dibawa sang suami. Ia tidak bisa membayangkan putrinya yang cantik jelita, ayu menawan bersanding dengan si "damim". "Aneh! Pokoknya aneh!" Bahkan sang istri mengucapkan kata 'aneh' sampai tiga kali.

    Dari balik kamar, ternyata sang putri mendengar percakapan kedua orang tuanya. Sang putri terlihat cemas, gusar, galau.

    "Ayahanda..Ibunda..," kata sang putri sesaat sebelum ayahnya beranjak menemui Rasulullahﷺ hendak menyampaikan permohonan maaf tidak bisa menerima lamaran beliau. Ternyata sang putri mendengarkan percakapan kedua orang tuanya tanpa sepengetahuan keduanya. Dari tadi ia terlihat cemas, gusar, galau.

     "Pantaskah kita menolak pinangan Rasulullahﷺ?"

    Ayah Ibunya terdiam. Dramatis!

    Kata-kata itu tepat membasahi Qalbu beliau berdua. Menyadarkan bahwa apa yang hendak mereka berdua lakukan kurang tepat. Kurang diberkahi.

    "Jika beliau ridha dengan pilihan tersebut, bukankah sebaiknya engkau berdua nikahkan aku saja dengan lelaki itu," lanjut sang putri meyakinkan.

    "Rasulullahﷺ tidak akan pernah menyia-nyiakanku." Luar biasa! Rangkaian kata yang tidak keluar kecuali dari kalbu mukmin, shadiq, hazim.* Seketika kedua orang tuanya pun tersadar.

    "Engkau benar, putriku."

    Maka diberlangsungkanlah pernikahan antara Julaibib dengan Sang Putri.

    Jika kita merasa hidup kita sengsara, seharusnya kita malu dengan Julaibib. Sesengsara-sesengsaranya kita, coba bandingkan dengan…ah, janganlah! Memang tabiat kita suka mengeluh. Tidak mau disalahkan! Selalu bersembunyi di balik kalimat: ‘tapi kan–tapi kan’.*

    Selepas peristiwa menggegerkan Julaibib dengan sang putri Anshari itu, setidaknya menggegerkan menurut kita, tetap saja Julaibib tak dikenal. Mungkin berbeda dengan kita kalau dapat anak juragan herbal kaya raya yang cantiknya bukan buatan. Atau, kalau dapat anak ustadz kondang yang sering safari dakwah hampir ke seluruh pelosok nusantara. Kadang-kadang kita terkena sindrome sok terkenal menumpang figur mertua kita. Astaghfirullah! Julaibib? Tetap dalam keterasingan.

    Waktu itu, kaum muslimin baru saja mendapatkan kemenangan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tiba-tiba saja Rasulullahﷺ bertanya kepada para shahabatnya, “Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”

    Serta merta para shahabat berebutan menjawab seolah yang mereka sebutkan namanya akan mendapat kabar gembira dari beliau, _“Iya, iya, ya Rasulullahﷺ. Aku kehilangan si Fulan dan si Fulan.”

    Rasulullahﷺ bergeming dari jawaban mereka, “Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”

    “Saya, saya, ya Rasulullah. Saya kehilangan si Fulan dan si Fulan,” para shahabat dengan sangat antusias menjawab dengan seribu satu harapan dari Rasulullahﷺ.

    Namun beliau tetap bergeming. Tetap menyiratkan wajah terpukul kehilangan. Dengan nada parau, beliau ulangi pertanyaan beliau, *“Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”*

    Suasana menjadi hening. Para shahabat yang tadinya sangat antusias sekarang terdiam seribu bahasa merasa bersalah. Mereka merasa, semakin mereka menjawab, akan semakin membuat Rasulullahﷺ sedih dan terpukul.

    Maka Rasulullahﷺ tidak sanggup lagi menahan kesedihannya, “Aku kehilangan Julaibib.”

    Deg.!! Mereka baru sadar bahwa di tengah-tengah mereka ada yang bernama Julaibib. Seketika nama itu benar-benar menohok hati para shahabat. Seakan mereka ingin mengutuk diri sendiri akibat lancang terhadap seseorang yang sangat dimuliakan Rasulullahﷺ. Mereka benar-benar ingin menangis. Menangisi diri sendiri.

    “Tolong carikan shahabatku Julaibib,” pinta Rasulullah sendu.

    Segera para shahabat mencari Julaibib demi menebus kesalahan mereka.

    Akhirnya para shahabat menemukan jasad beliau berada di tengah bangkai tujuh orang musyrik.

    Rasulullahﷺ bersabda, “Dengan hebat dia membunuh tujuh musyrik ini, mereka pun membunuhnya.”

    Setelah bersabda demikian, Rasulullahﷺ semakin terisak-isak. Menambah suasana semakin sedih, mengharu biru, dan menyayat hati para shahabat yang semakin merasa bersalah.

    Dengan tangannya yang mulia, Rasulullahﷺ mengangkat kepala Julaibib dan menyandarkannya ke dada Rasulullahﷺ. “Sungguh Julaibib dariku dan aku dari Julaibib.”

    Rasulullahﷺ terus mendekap Julaibib yang membuat para shahabat semakin menangis tersedu-sedu, sembari menunggu shahabat selesai menggali liang kubur untuk beliau.

    Julaibib, semoga Allahﷻ meridhainya. Sangat indah perjalanan beliau. Hidup tak disebut, meninggal semerbak wangi namanya.

    Bagaimana istri beliau? Disebutkan beliau adalah janda paling dermawan sekota Madinah.

    Janda? Iya, kawan.

    Pergaulan Julaibib kepada istri beliau sangatlah menyenangkan. Membuat istri beliau tidak ingin menikah lagi setelah wafatnya. Berharap tetap menjadi istri Julaibib di Surga kelak.

    Dikutip dari: Majalah santri Al Mufid

    Buah Goresan: Abu Uzair Khairul Huda حَفِظَهُ اللَّهُ تَعَالَى (Thalib ma'had Darussalaf, SKH)

    Sumber Referensi:

    – Shahih Muslim.

    – Musnad Ahmad.

     

    Selengkapnya
  • Hukum Celana Isbal Menutupi Mata Kaki - Hukum Menggulung Celana Saat Shalat

    Hukum Celana Isbal Menutupi Mata Kaki

     

    Hukum Celana Isbal - Bagaimana hukum menggulung celana hingga diatas mata kaki dan menurunkannya selesai shalat?

    Na'am, dalam hal ini ma'asyiral ikhwah rahimakumullah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam banyak riwayat menegaskan bahwa seorang laki-laki tidak diperbolehkan menggunakan celana atau memakai sarung hingga menutupi matakakinya, bahkan ancaman yang keras dari Nabi 'alaihishshalatu wassalam dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari hadits 'Abdullah bin Umar kata Nabi 'alaihishshalatu wassalam:

    "Allah subhanahu wata'ala tidak akan memandang kepada orang yang menurunkan pakaiannya disebabkan karena sombong"

    Demikian pula Rasulullah 'alaihishshalatu wassalam mengatakan:

    "Apa yang menutupi kedua mata kaki itu ancamannya dalam neraka"

    Dalam riwayat yang lain Nabi 'alaihishshalatu wassalam mengatakan:

    "Hendaklah kalian menjauhi menurunkan pakaian hingga menutupi mata kaki, sebab yang demikian termasuk dalam kesombongan seseorang"

    Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang lain yang menjelaskan tentang wajibnya seorang muslim laki-laki untuk menggunakan celana ataukah sarung dengan tidak menutupi mata kakinya, siapa yang lebih afdhal dari Nabi 'alaihishshalatu wassalam, dan Rasulullah 'alaihishshalatu wassalam yang telah menjelaskan kepada ummat ini yang terbaik bagi mereka apabila Nabi 'alaihishshalatu wassalam mengancam:

    Yang menutupi kedua mata kaki itu ancamannya neraka, maka jangan kemudian dari kita berusaha mencari berbagai alasan mengatakan

    "sayakan tidak sombong, saya tidak termasuk di dalam hadits tersebut"

    Darimana kemudian kita mengetahui bahwa kita tidak sombong?, disaat kita sudah menolak hadits tersebut dan tidak mengamalkan hadits itu, itu sudah menunjukkan bahwa disitu ada jenis kesombongan, sebab kesombongan itu apa?.. Kata Nabi 'alaihishshalatu wassalam:

    الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

    "Yang dinamakan kesombongan itu adalah Menolak kebenaran lalu meremehkan manusia"

    Menganggap rendah manusia, maka ini ma'asyiral ikhwah rahimakumullah penting dalam hal ini, ada sebagian kaum muslimin punya kebiasaan kalau memasuki shalat baru di gulung, seselai shalat selesai masalah, diturunkan kembali, padahal hadits-hadits tersebut bersifat umum, di dalam shalat dan di luar shalat, di dalam shalat dan di luar shalat, dalam riwayat riwayat imam muslim denga tegas Nabi 'alaihishshalatu wassalam mengatakan:

    لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

    “Ada 3 golongan  yang Allah subhanahu wata'ala tidak  akan berbicara dengan  mereka , Allah tidak akan memperhatikan mereka , Allah tidak akan mensucikan mereka , bagi mereka adzab yang pedih”

    Diantaranya kata Nabi 'alaihishshalatu wassalam Musbilun Izaar Orang yang menurunkan kainnya hingga menutupi mata kaki. Hadits Riwayat Imam Muslim, maka ini menunjukkan sangat kerasnya termasuk diantara dosa besar yang dilalaikan oleh sekian banyak kaum muslimin.

    Orang-orang yang masuk kedalam shalat kemudian mereka menggulung, dan selesai shalat mereka menurunkan kembali mereka telah terjatuh terhadap pelarangan yang berikutnya, diantara larangan tersebut karena mereka menyangka bahwa larangan tersebut hanya di dalam shalat, padahal tidak! Hadits-haditnya bersifat umum, demikian pula ketika dia masuk kedalam shalat lalu dia menggulung celananya.

    Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Al imamul Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Abbas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

    Aku diperintahkan sujud diatas tujuh anggota tubuh, lalu beliau menyebutkan tujuh anggota tubuh tersebut: jidat, dahi, kedua tangan, lutut dan ujung-ujung bagian kakinya, lalu kata Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam:

    “Dan aku tidak menahan rambut dan tidak pula pakaian”

    tidak menahan rambut yakni kalau rambutnya panjang terus di ikat, ya ini tidak diperbolehkan dalam shalat, demikian pila tidak menahan pakaian, ya, tidak menahan pakaian, termasuk diantara menahan pakaian apabila dia menggulung pakaiannya tersebut, sehingga dia jatuh dalam kesalahan yang berikutnya, oleh karena itu jalan yang terbaik adalah menggunakan celana yang tidak menutupi mata kaki, minimal mata kaminya terlihat yakni di atas mata kaki, atau kalaupun di paksa-paksakan pas dengan mata kaki, jangan sampai mata kakinya tertutup, nah jangan sampai tertutupi mata kakinya.

    Oleh karena itu Umar ibnul Khattab Radhiallahu ‘anhu karena melihat pentingnya masalah ini beliau dalam kondisi sekarat, pada waktu itu beliau di tikam oleh seorang majusi Abu Lu’lu’ al majusi, na’am dalam keadaan terluka seperti itu di atas pembaringannya dalam keadaan sakit ketika ada seorang anak kecil masuk kedalam kamarnya dalam keadaan anak tersebut menurunkan kain sarungnya beliau tegur lalu beliau mengatakan:

    “Wahai anak, angkatlah sarungmu hingga tidak menutupi mata kaki karena itu lebih bertaqwa dan lebih bersih”

    Kalau diturunkan kan kotor, ya?, na’am, maka angkatlah, itu lebih bertaqwa dan itu lebih bersih, jangan pedulikan apa yang oleh sebagian kadang-kadang mereka mencemooh orang-orang yang hendak mengamalkan perintah Nabi Shallallah ‘alaihi wa sallam ini, di teriaki banjir lah atau di teriaki dengan macam-macam teriakan, wal hamdulillah kita bersabar diatas sunnah Nabi ‘alaihi ashshalatu wassalam.

     Di transkrip dari Tanya Jawab Bersama Al Ustad Abu Mu'awiyah Askari bin Jamal, afwan tidak semua hadits tersedia dalam teks bahasa Arab pada tulisan ini disebabkan oleh keterbatasan ilmu pada admin.

    Catatan Hadits:

    Hadits-1

    مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

    “Sarung yang berada di bawah kedua mata kaki, ada di dalam neraka (kaki tersebut).”

    Hadits-2

    مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    “Barang siapa menyeret pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan memandangnya pada hari kiamat nanti.”

    Hadits-3

    ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-ثلاثة مرات- فَقَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا قَالَ الْمُسْبِلُ الْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

    “Tiga orang yang Allah tidak ajak bicara mereka pada hari kiamat, tidak Allah lihat mereka, tidak Allah sucikan mereka dan bagi mereka azab yang pedih, (Rasulullah) mengucapkannya sebanyak tiga kali, berkata Abu Dzar, gagal dan merugilah orang tersebut, siapa mereka  wahai Rasulullah?. Beliau bersabda: “orang yang musbil (pakaian atau sarungnya sampai melebihi mata kaki –ed), orang yang mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang menawarkan barangnya dengan sumpah dusta.” (HR. Muslim)

    Hadits-4

    أُمِرْنَا أَنْ نَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظَمٍ وَلاَ نَكُفَّ ثَوْبًا وَلاَ شَعْرً

    “Kita diperintah untuk sujud di atas tujuh tulang dan kita tidak boleh menahan pakaian dan rambut (ketika sedang mengerjakan shalat).” (HR. Al-Bukhari no. 810, 815, 816 dan Muslim no. 1095)

     

     

     

     

     

    Selengkapnya
  • Hukum Membunuh Diplomat Asing

    Hukum Membunuh Diplomat Asing Dalam Syariat Islam

    Hukum Membunuh Diplomat Asing - Seperti yang telah di beritakan bahwa telah terjadi pembunuhan terhadap salah seorang diplomat asing dari Rusia di Ankara (Turki) oleh seorang oknum polisi yang sedang off duty, maka dengan ini kami merasa perlu mengangkat pandangan para Ulama terkait pembunuhan terhadap diplomat Rusia tersebut.

    Tulisan ini bukanlah kami maksudkan untuk membela kaum kafir yang telah terang-terangan memerangi kaum muslimin di Suriah, namun kami merasa perlu menyampaikan pendapat para Ulama agar kita tetap berada di bawah bimbingan para Ulama yang mereka berpegang teguh pada Kitab wa Sunnah dengan pemahaman Salafushsholih.

     

    Syaikh 'Arafat bin Hasan Al Muhammadi Tentang Hukum Membunuh Diplomat Asing 

    TIDAK BOLEH MEMBUNUH DIPLOMAT ASING ATAU UTUSAN NEGARA LAIN

    Syaikh 'Arafat bin Hasan Al Muhammadi hafizhahullah menulis dalam twitternya sebuah hadits yang mengisyaratkan larangan membunuh diplomat asing dimana Rasulullah sallallahu'alaihi wa sallam dahulu juga pernah menerima diplomat asing dari pengikut Musailamah Al Kadzdzab yang mengaku sebagai seorang Nabi.

    Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bertanya kepada dua orang utusan Musailamah al-Kadzdzab (yang mengaku sebagai nabi -pent), "Apa keyakinan kalian?"

    Keduanya menjawab, "Seperti yang dia (Musailamah) yakini."

    Maka beliau bersabda:

    ﺃَﻣَﺎ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻮْ ﻻَ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞَ ﻻَ ﺗُﻘْﺘَﻞُ ﻟَﻀَﺮَﺑْﺖُ ﺃَﻋْﻨَﺎﻗَﻜُﻤَﺎ.

    "Demi Allah, seandainya bukan karena para utusan itu tidak boleh untuk dibunuh, niscaya kupenggal leher kalian."

    Shahih, HR. Abu Dawud no. 2761

    Sumber || https://twitter.com/Arafatbinhassan/status/810943815792160768

    Dubes_Russia_di_Turki_dibunuh

    WhatsApp Salafy Indonesia
    Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

    Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan Hafizhahullah Tentang Hukum Membunuh Orang Kafir Yang Berada Di Negeri kaum Muslimin

    BOLEHKAH MEMBUNUH ORANG-ORANG KAFIR YANG BERADA DI NEGERI KAUM MUSLIMIN, DENGAN DALIH NEGARA MEREKA MEMERANGI KAUM MUSLIMIN

    Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah ditanya:

    السؤال: ﻫﻨﺎﻙ ﻣﻦ ﻳﻔﺘﻲ ﺑﻘﺘﻞ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺰﻳﺮﺓ ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ، ﻭﻋﻠﻠﻮﺍ ﺫﻟﻚ ﺑﺄﻧﻬﻢ ﻟﻴﺴﻮﺍ ﻣﻌﺎﻫﺪﻳﻦ؛ ﻷﻥ ﺩﻭﻟﺘﻬﻢ ﺗﻘﺘﻞ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﺎﺳﻢ ﺍﻹﺭﻫﺎﺏ، وﻓﻬﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﺻﺤﻴﺤﺔ؟

    الجواب: ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﺠﻬﺎﻝ ﺃﻳﻀﺎ ﻭﺍﻟﻤﺘﻌﺎﻟﻤﻴﻦ، ﻣﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﻗﺘﻞ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺟﺎﺅﻭﺍ ﺑﻌﻬﺪ ﻭﺃﻣﺎﻥ، ﺩﺧﻠﻮﺍ ﺑﻼﺩ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﻌﻬﺪ ﻭﺃﻣﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﻫﺬﺍ ﻏﺪﺭ ﻭﺧﻴﺎﻧﺔ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻫﺬﺍ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﻮ ﻓﻲ ﺟﺰﻳﺮﺓ ﺍﻟﻌﺮﺏ، ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻧﻬﻢ ﻳﺪﺧﻠﻮﻥ ﺟﺰﻳﺮﺓ ﺍﻟﻌﺮﺏ ﻟﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﺇﻣﺎ ﺳﻔﺮﺍﺀ ﻭﺇﻣﺎ ﺗﺠﺎﺭ ﻭﺇﻣﺎ ﻋُﻤَّﺎﻝ ﻳﻘﻮﻣﻮﻥ ﺑﺄﻋﻤﺎﻝ ﻻ ﻳﺘﻘﻨﻬﺎ ﻏﻴﺮﻫﻢ، ﻳﺠﻮﺯ ﻫﺬﺍ.
    ﺍﻟﻤﻤﻨﻮﻉ ﺍﻻﺳﺘﻴﻄﺎﻥ؛ ﺗﻤﻜﻴﻦ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻹﺳﺘﻴﻄﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺰﻳﺮﺓ، ﺃﻣﺎ ﺃﻧﻬﻢ ﻳﺪﺧﻠﻮﻥ ﻟﻠﺠﺰﻳﺮﺓ ﻟﻠﻤﻌﺎﻣﻠﺔ ﻭﺍﻟﺘﻌﺎﻣﻞ ﺛﻢ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻓﻬﺬﺍ ﻻ ﻣﺎﻧﻊ ﻣﻨﻪ.

    Pertanyaan: Ada yang berfatwa bahwa boleh membunuh orang-orang kafir yang berada di Jazirah Arab dengan dalih bahwa mereka bukan orang-orang yang terikat perjanjian damai, karena negara mereka membunuh kaum muslimin dengan dalih memerangi terorisme. Maka fatwa ini benar?

    Jawaban: Ini termasuk fatwa orang-orang bodoh dan juga sok pintar. Tidak boleh membunuh orang-orang kafir yang datang dengan perjanjian dan jaminan keamanan. Mereka masuk ke negeri-negeri kaum muslimin perjanjian dan jaminan keamanan yang diberikan oleh kaum muslimin. Yang seperti ini merupakan tindakan melanggar janji dan berkhianat yang tidak diperbolehkan, walaupun mereka berada di Jazirah Arab.

    Mereka boleh untuk masuk ke Jazirah Arab untuk kepentingan kaum muslimin, apakah sebagai duta besar, pedagang, atau pekerja yang mengerjakan hal-hal yang tidak bisa dikerjakan dengan baik oleh selain mereka, yang seperti ini boleh.

    Yang dilarang adalah menetap untuk selamanya atau menjadi warga negara, yaitu memberi izin kepada orang-orang kafir untuk menetap di Jazirah Arab.

    Adapun mereka masuk ke Jazirah Arab untuk tujuan muamalah dan kerja sama, lalu mereka keluar, maka ini tidak terlarang.

     Sumber || http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=7086

    WhatsApp Salafy Indonesia
    Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

    Asy-Syaikh Abul Harits Ibrahim at-Tamimy hafizhahullah

    KEMARAHAN TERHADAP KEJAHATAN DI ALEPPO TIDAK MEMBENARKAN UNTUK MELANGGAR PERJANJIAN

    Asy-Syaikh Abul Harits Ibrahim at-Tamimy hafizhahullah berkata:

    ‏لعنةُ الله على كل من شارك في جرائم حلب أو رضي بها، وجعله في جهنم خالدا مخلدا، لكن المسلم منقادٌ لشرع الله لا لعواطفه، وديننا لا يُبيح الغدر!

    "Semoga Allah melaknat semua pihak yang ikut andil dalam kejahatan di Halab (Aleppo) atau meridhainya, dan memasukkannya di Jahannam kekal abadi. Namun seorang muslim tunduk kepada syari'at Allah, bukan kepada perasaannya, dan agama kita tidak membolehkan untuk melanggar perjanjian."

    Sumber || https://twitter.com/alsalafy/status/811212648662568960

    WhatsApp Salafy Indonesia
    Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

    Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany Rahimahullah

    TIDAK BOLEH MEMBUNUH ORANG KAFIR YANG DIBERI JAMINAN KEAMANAN DI NEGERI ISLAM

    Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah Berkata:

    Jika orang kafir -sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan- dari para turis atau pengunjung masuk ke sebuah negeri Islam, mereka ini tidak akan bisa masuk ke negeri kita yang merupakan negeri Islam kecuali dengan izin pemerintah muslim, oleh karena itulah maka tidak boleh berbuat jahat terhadapnya, karena dia terikat dengan perjanjian.

    Kemudian seandainya terjadi -dan memang telah terjadi sekian kali- yaitu seorang muslim berbuat jahat terhadap salah seorang dari mereka, hal itu akan mengakibatkan dia dibunuh, dan bisa jadi lebih dari sekedar dibunuh, atau dia dipenjara, atau hukuman yang lainnya.

    Jadi tidak ada hasil dari kejahatan terhadap darah (nyawa) turis semacam ini yang terjadi di negeri Islam yang bermanfaat bagi Islam, bahkan hal itu menyelisihi hadits yang telah disebutkan tadi:

    ﻣَﻦْ ﻗَﺘَﻞَ ﻣُﻌَﺎﻫَﺪًﺍ فِي كُنهَهِ ﻟَﻢْ يَرَﺡْ ﺭَﺍﺋِﺤَﺔَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ.

    "Siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat dalam perjanjian damai dan diberi keamanan, maka dia tidak akan mencium bau surga."

    Sumber || https://telegram.me/nasiha131

    WhatsApp Salafy Indonesia
    Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

    Masih banyak pendapat para Ulama yang melarang melakukan pembunuhan terhadap diplomat Asing apalagi mereka yang dijamin keamanannya oleh pemerintah suatu negeri, semoga yang sedikit ini memberikan manfaat.

    Wallahu a'lam.

    Selengkapnya