Paling Populer Artikel

  • Hukum Celana Isbal Menutupi Mata Kaki - Hukum Menggulung Celana Saat Shalat

    Hukum Celana Isbal Menutupi Mata Kaki

     

    Hukum Celana Isbal - Bagaimana hukum menggulung celana hingga diatas mata kaki dan menurunkannya selesai shalat?

    Na'am, dalam hal ini ma'asyiral ikhwah rahimakumullah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam banyak riwayat menegaskan bahwa seorang laki-laki tidak diperbolehkan menggunakan celana atau memakai sarung hingga menutupi matakakinya, bahkan ancaman yang keras dari Nabi 'alaihishshalatu wassalam dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari hadits 'Abdullah bin Umar kata Nabi 'alaihishshalatu wassalam:

    "Allah subhanahu wata'ala tidak akan memandang kepada orang yang menurunkan pakaiannya disebabkan karena sombong"

    Demikian pula Rasulullah 'alaihishshalatu wassalam mengatakan:

    "Apa yang menutupi kedua mata kaki itu ancamannya dalam neraka"

    Dalam riwayat yang lain Nabi 'alaihishshalatu wassalam mengatakan:

    "Hendaklah kalian menjauhi menurunkan pakaian hingga menutupi mata kaki, sebab yang demikian termasuk dalam kesombongan seseorang"

    Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang lain yang menjelaskan tentang wajibnya seorang muslim laki-laki untuk menggunakan celana ataukah sarung dengan tidak menutupi mata kakinya, siapa yang lebih afdhal dari Nabi 'alaihishshalatu wassalam, dan Rasulullah 'alaihishshalatu wassalam yang telah menjelaskan kepada ummat ini yang terbaik bagi mereka apabila Nabi 'alaihishshalatu wassalam mengancam:

    Yang menutupi kedua mata kaki itu ancamannya neraka, maka jangan kemudian dari kita berusaha mencari berbagai alasan mengatakan

    "sayakan tidak sombong, saya tidak termasuk di dalam hadits tersebut"

    Darimana kemudian kita mengetahui bahwa kita tidak sombong?, disaat kita sudah menolak hadits tersebut dan tidak mengamalkan hadits itu, itu sudah menunjukkan bahwa disitu ada jenis kesombongan, sebab kesombongan itu apa?.. Kata Nabi 'alaihishshalatu wassalam:

    الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

    "Yang dinamakan kesombongan itu adalah Menolak kebenaran lalu meremehkan manusia"

    Menganggap rendah manusia, maka ini ma'asyiral ikhwah rahimakumullah penting dalam hal ini, ada sebagian kaum muslimin punya kebiasaan kalau memasuki shalat baru di gulung, seselai shalat selesai masalah, diturunkan kembali, padahal hadits-hadits tersebut bersifat umum, di dalam shalat dan di luar shalat, di dalam shalat dan di luar shalat, dalam riwayat riwayat imam muslim denga tegas Nabi 'alaihishshalatu wassalam mengatakan:

    لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

    “Ada 3 golongan  yang Allah subhanahu wata'ala tidak  akan berbicara dengan  mereka , Allah tidak akan memperhatikan mereka , Allah tidak akan mensucikan mereka , bagi mereka adzab yang pedih”

    Diantaranya kata Nabi 'alaihishshalatu wassalam Musbilun Izaar Orang yang menurunkan kainnya hingga menutupi mata kaki. Hadits Riwayat Imam Muslim, maka ini menunjukkan sangat kerasnya termasuk diantara dosa besar yang dilalaikan oleh sekian banyak kaum muslimin.

    Orang-orang yang masuk kedalam shalat kemudian mereka menggulung, dan selesai shalat mereka menurunkan kembali mereka telah terjatuh terhadap pelarangan yang berikutnya, diantara larangan tersebut karena mereka menyangka bahwa larangan tersebut hanya di dalam shalat, padahal tidak! Hadits-haditnya bersifat umum, demikian pula ketika dia masuk kedalam shalat lalu dia menggulung celananya.

    Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Al imamul Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Abbas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

    Aku diperintahkan sujud diatas tujuh anggota tubuh, lalu beliau menyebutkan tujuh anggota tubuh tersebut: jidat, dahi, kedua tangan, lutut dan ujung-ujung bagian kakinya, lalu kata Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam:

    “Dan aku tidak menahan rambut dan tidak pula pakaian”

    tidak menahan rambut yakni kalau rambutnya panjang terus di ikat, ya ini tidak diperbolehkan dalam shalat, demikian pila tidak menahan pakaian, ya, tidak menahan pakaian, termasuk diantara menahan pakaian apabila dia menggulung pakaiannya tersebut, sehingga dia jatuh dalam kesalahan yang berikutnya, oleh karena itu jalan yang terbaik adalah menggunakan celana yang tidak menutupi mata kaki, minimal mata kaminya terlihat yakni di atas mata kaki, atau kalaupun di paksa-paksakan pas dengan mata kaki, jangan sampai mata kakinya tertutup, nah jangan sampai tertutupi mata kakinya.

    Oleh karena itu Umar ibnul Khattab Radhiallahu ‘anhu karena melihat pentingnya masalah ini beliau dalam kondisi sekarat, pada waktu itu beliau di tikam oleh seorang majusi Abu Lu’lu’ al majusi, na’am dalam keadaan terluka seperti itu di atas pembaringannya dalam keadaan sakit ketika ada seorang anak kecil masuk kedalam kamarnya dalam keadaan anak tersebut menurunkan kain sarungnya beliau tegur lalu beliau mengatakan:

    “Wahai anak, angkatlah sarungmu hingga tidak menutupi mata kaki karena itu lebih bertaqwa dan lebih bersih”

    Kalau diturunkan kan kotor, ya?, na’am, maka angkatlah, itu lebih bertaqwa dan itu lebih bersih, jangan pedulikan apa yang oleh sebagian kadang-kadang mereka mencemooh orang-orang yang hendak mengamalkan perintah Nabi Shallallah ‘alaihi wa sallam ini, di teriaki banjir lah atau di teriaki dengan macam-macam teriakan, wal hamdulillah kita bersabar diatas sunnah Nabi ‘alaihi ashshalatu wassalam.

     Di transkrip dari Tanya Jawab Bersama Al Ustad Abu Mu'awiyah Askari bin Jamal, afwan tidak semua hadits tersedia dalam teks bahasa Arab pada tulisan ini disebabkan oleh keterbatasan ilmu pada admin.

    Catatan Hadits:

    Hadits-1

    مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

    “Sarung yang berada di bawah kedua mata kaki, ada di dalam neraka (kaki tersebut).”

    Hadits-2

    مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مِنَ الْخُيَلَاءِ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    “Barang siapa menyeret pakaiannya (melebihi mata kaki) karena sombong, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan memandangnya pada hari kiamat nanti.”

    Hadits-3

    ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-ثلاثة مرات- فَقَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا قَالَ الْمُسْبِلُ الْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

    “Tiga orang yang Allah tidak ajak bicara mereka pada hari kiamat, tidak Allah lihat mereka, tidak Allah sucikan mereka dan bagi mereka azab yang pedih, (Rasulullah) mengucapkannya sebanyak tiga kali, berkata Abu Dzar, gagal dan merugilah orang tersebut, siapa mereka  wahai Rasulullah?. Beliau bersabda: “orang yang musbil (pakaian atau sarungnya sampai melebihi mata kaki –ed), orang yang mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang menawarkan barangnya dengan sumpah dusta.” (HR. Muslim)

    Hadits-4

    أُمِرْنَا أَنْ نَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظَمٍ وَلاَ نَكُفَّ ثَوْبًا وَلاَ شَعْرً

    “Kita diperintah untuk sujud di atas tujuh tulang dan kita tidak boleh menahan pakaian dan rambut (ketika sedang mengerjakan shalat).” (HR. Al-Bukhari no. 810, 815, 816 dan Muslim no. 1095)

     

     

     

     

     

    Selengkapnya
  • Konsep Cinta Hakiki dari Renungan Kisah Julaibib

    Kisah Nyata Julaibib dan Istrinya Radhiallohu 'anhum.

    Akhi... tahukah engkau tentang konsep cinta hakiki? Mungkin selama ini, realita saat ini, konsep cinta yang sering kita saksikan identik dengan uang, intrik, putus-nyambung yang tak jelas, romantis dan air mata yang dipaksakan, perceraian, perselingkuhan, retak, ruwet, menyakitkan, buta, dan gelap. Konsep-konsep cinta yang indah dan penuh dinamika perjuangan hanya ada dalam film, sinetron, novel, cerita fiksi, bayangan kawula muda, khayalan pujangga, dan dendangan para penyair. Konsep cinta pun seolah menyakitkan. Pahit. Atau, indah dalam khayalan.

    Maka, jika engkau bertanya, adakah konsep cinta hakiki dalam dunia nyata, inilah jawabannya! Inilah kisah yang memuat konsep cinta hakiki, terlahir dari relung hati, tanpa paksaan, dan terikat benang Ilahi.

    Kisah ini bermula saat Rasulullahﷺ iba melihat salah seorang shahabatnya. Julaibib namanya. Ia adalah manusia yang tak pernah dirasakan keberadaannya, meskipun di zaman shahabat sekalipun. Perawakannya kerdil. Warnanya bagaikan arang. Wajahnya diungkapkan dalam bahasa Arab dengan lafaz "damim". Artinya bukan sekedar buruk rupa. Tapi buruk rupa yang mengerikan. Karenanya orang-orang tak berminat berdekat-dekat dengannya. Bahkan sekedar untuk mengingatnya. Apalagi menanyakan kabarnya. Atau merasakan segala gejolaknya. Keberadaannya bagaikan tiada. Ia itu miskin, kusut, dan tak memiliki nasab yang jelas. Ia terasing, walau di negri sendiri. Meskipun di zaman terbaik, zaman shahabat._

    Rasa iba Rasulullahﷺ menjadi berkuadrat karena Julaibib tak pernah memerdulikan keterasingannya. Ia acuh atas sikap manusia kepadanya. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara memenuhi panggilan Allah ﷻuntuk shalat. Bagaimana cara memenuhi panggilan Rasulullah ﷺuntuk berjihad. Itu saja!

    Hingga akhirnya, rasa iba menggerakkan kaki Rasulullahﷺ yang mulia untuk berkunjung ke rumah salah seorang shahabat Anshari.

    "Sahabat, maukah engkau nikahkan putrimu?" tanya Rasulullahﷺ.

    "Sungguh!? Betapa mulianya tawaran darimu, duhai Rasulullahﷺ," jawab Anshari.

    "Namun bukan untukku."

    "Lantas?"

    "Sahabatku. Julaibib."

    Mendengar nama Julaibib, Anshari bagaikan terserang demam tingkat tinggi. Lesu bukan main. Semangat nan riang yang tadi terpancar indah dari wajahnya seolah menjadi mendung dan gelap. Saking gelapnya, ia sampai tak sadar bahwa yang meminang untuk Julaibib Rasulullahﷺ sendiri.

    Padahal, apakah pantas rekomendasi Rasulullahﷺ ditolak? Begitulah. Bukan salah Anshari juga Istrinya nanti. Namun karena jeleknya image Julaibib sampai membuat Anshari lupa bahwa yang datang meminang adalah Rasulullahﷺ sendiri. Dan kemungkinan besarnya Allahﷻ mengampuni shahabat tadi. Sebab kesalahan seseorang saat batinnya tidak karuan, seperti terlalu gembira, terlampau sedih, begitu tertekan, dan semisalnya akan diampuni oleh Allah. Terlebih ia juga istrinya adalah shahabat Rasulullahﷺ. Bukankah orang yang saking gembiranya berkata,

    "Ya Allah, Engkau hambaku sedang aku adalah rabb-Mu" diampuni oleh Allah!?

     

    Rasulullahﷺ pun manusia bijak bestari. Beliau paham shahabatnya. Memang butuh ketegaran sebesar-besarnya untuk menerima Julaibib masuk ke dalam anggota keluarganya. Makanya, saat Anshari berkata, "Bolehkah aku musyawarahkan kepada ibunya terlebih dahulu, wahai Rasulullah, “tentu” ekspresi pesimis Rasulullahﷺ mengiyakan dan pamit pulang.

     "Hah! Julaibib!? Aneh!" teriak sang istri Anshari mendengar berita yang dibawa sang suami. Ia tidak bisa membayangkan putrinya yang cantik jelita, ayu menawan bersanding dengan si "damim". "Aneh! Pokoknya aneh!" Bahkan sang istri mengucapkan kata 'aneh' sampai tiga kali.

    Dari balik kamar, ternyata sang putri mendengar percakapan kedua orang tuanya. Sang putri terlihat cemas, gusar, galau.

    "Ayahanda..Ibunda..," kata sang putri sesaat sebelum ayahnya beranjak menemui Rasulullahﷺ hendak menyampaikan permohonan maaf tidak bisa menerima lamaran beliau. Ternyata sang putri mendengarkan percakapan kedua orang tuanya tanpa sepengetahuan keduanya. Dari tadi ia terlihat cemas, gusar, galau.

     "Pantaskah kita menolak pinangan Rasulullahﷺ?"

    Ayah Ibunya terdiam. Dramatis!

    Kata-kata itu tepat membasahi Qalbu beliau berdua. Menyadarkan bahwa apa yang hendak mereka berdua lakukan kurang tepat. Kurang diberkahi.

    "Jika beliau ridha dengan pilihan tersebut, bukankah sebaiknya engkau berdua nikahkan aku saja dengan lelaki itu," lanjut sang putri meyakinkan.

    "Rasulullahﷺ tidak akan pernah menyia-nyiakanku." Luar biasa! Rangkaian kata yang tidak keluar kecuali dari kalbu mukmin, shadiq, hazim.* Seketika kedua orang tuanya pun tersadar.

    "Engkau benar, putriku."

    Maka diberlangsungkanlah pernikahan antara Julaibib dengan Sang Putri.

    Jika kita merasa hidup kita sengsara, seharusnya kita malu dengan Julaibib. Sesengsara-sesengsaranya kita, coba bandingkan dengan…ah, janganlah! Memang tabiat kita suka mengeluh. Tidak mau disalahkan! Selalu bersembunyi di balik kalimat: ‘tapi kan–tapi kan’.*

    Selepas peristiwa menggegerkan Julaibib dengan sang putri Anshari itu, setidaknya menggegerkan menurut kita, tetap saja Julaibib tak dikenal. Mungkin berbeda dengan kita kalau dapat anak juragan herbal kaya raya yang cantiknya bukan buatan. Atau, kalau dapat anak ustadz kondang yang sering safari dakwah hampir ke seluruh pelosok nusantara. Kadang-kadang kita terkena sindrome sok terkenal menumpang figur mertua kita. Astaghfirullah! Julaibib? Tetap dalam keterasingan.

    Waktu itu, kaum muslimin baru saja mendapatkan kemenangan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tiba-tiba saja Rasulullahﷺ bertanya kepada para shahabatnya, “Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”

    Serta merta para shahabat berebutan menjawab seolah yang mereka sebutkan namanya akan mendapat kabar gembira dari beliau, _“Iya, iya, ya Rasulullahﷺ. Aku kehilangan si Fulan dan si Fulan.”

    Rasulullahﷺ bergeming dari jawaban mereka, “Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”

    “Saya, saya, ya Rasulullah. Saya kehilangan si Fulan dan si Fulan,” para shahabat dengan sangat antusias menjawab dengan seribu satu harapan dari Rasulullahﷺ.

    Namun beliau tetap bergeming. Tetap menyiratkan wajah terpukul kehilangan. Dengan nada parau, beliau ulangi pertanyaan beliau, *“Tidakkah kalian kehilangan seseorang?”*

    Suasana menjadi hening. Para shahabat yang tadinya sangat antusias sekarang terdiam seribu bahasa merasa bersalah. Mereka merasa, semakin mereka menjawab, akan semakin membuat Rasulullahﷺ sedih dan terpukul.

    Maka Rasulullahﷺ tidak sanggup lagi menahan kesedihannya, “Aku kehilangan Julaibib.”

    Deg.!! Mereka baru sadar bahwa di tengah-tengah mereka ada yang bernama Julaibib. Seketika nama itu benar-benar menohok hati para shahabat. Seakan mereka ingin mengutuk diri sendiri akibat lancang terhadap seseorang yang sangat dimuliakan Rasulullahﷺ. Mereka benar-benar ingin menangis. Menangisi diri sendiri.

    “Tolong carikan shahabatku Julaibib,” pinta Rasulullah sendu.

    Segera para shahabat mencari Julaibib demi menebus kesalahan mereka.

    Akhirnya para shahabat menemukan jasad beliau berada di tengah bangkai tujuh orang musyrik.

    Rasulullahﷺ bersabda, “Dengan hebat dia membunuh tujuh musyrik ini, mereka pun membunuhnya.”

    Setelah bersabda demikian, Rasulullahﷺ semakin terisak-isak. Menambah suasana semakin sedih, mengharu biru, dan menyayat hati para shahabat yang semakin merasa bersalah.

    Dengan tangannya yang mulia, Rasulullahﷺ mengangkat kepala Julaibib dan menyandarkannya ke dada Rasulullahﷺ. “Sungguh Julaibib dariku dan aku dari Julaibib.”

    Rasulullahﷺ terus mendekap Julaibib yang membuat para shahabat semakin menangis tersedu-sedu, sembari menunggu shahabat selesai menggali liang kubur untuk beliau.

    Julaibib, semoga Allahﷻ meridhainya. Sangat indah perjalanan beliau. Hidup tak disebut, meninggal semerbak wangi namanya.

    Bagaimana istri beliau? Disebutkan beliau adalah janda paling dermawan sekota Madinah.

    Janda? Iya, kawan.

    Pergaulan Julaibib kepada istri beliau sangatlah menyenangkan. Membuat istri beliau tidak ingin menikah lagi setelah wafatnya. Berharap tetap menjadi istri Julaibib di Surga kelak.

    Dikutip dari: Majalah santri Al Mufid

    Buah Goresan: Abu Uzair Khairul Huda حَفِظَهُ اللَّهُ تَعَالَى (Thalib ma'had Darussalaf, SKH)

    Sumber Referensi:

    – Shahih Muslim.

    – Musnad Ahmad.

     

    Selengkapnya
  • Kajian Intensif Ramadhan 1437H kitab Shalat Matan Abi Syuja' oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askari

    Simak Kajian Intensif Ramadhan 1437H kitab Shalat Matan Abi Syuja' oleh Al Ustadz Abu Muawiyah Askari Hafidzahullah di Masjid Zaadul Ma'ad Pondok Pesantren Ibnul Qayyim Jl. Projakal KM 5.5 Balikpapan, Kalimantan Timur.

    Qaddarullah kami tidak mendapatkan rekaman full pembahasannya, semoga yang tersisa ini membawa manfaat bagi kaum muslimin rahimakumullah.

    Pertemuan 01 Pengertian Sholat

    10. Mengqodo Sholat Sunnah Rowatib - Al Ustadz Askari

    11. Mengqadha Shalat Sunnah Rawatib Lanjutan - Al Ustadz Askari

    12. Shalat Witir Waktu Dan Jumlah Rakaatnya - Al Ustad Askari

    13. Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha - Al Ustadz Askari

    14. Jenis Jenis Shalat Nafilah - Al ustadz Askari

    15. Penjelasan Tentang Shalat Tarawih - Al ustadz Askari

    16. Keutamaan Shalat Tarawih Berjamaah - Al ustadz Askari

    17. Keutamaan Shalat Tarawih Di Masjid Dan Di Rumah

    18. Syarat Syarat Shalat - Al Ustadz Askari

    19. Menutup Aurat Sebagai Syarat Shalat - Al Ustadz Askari

    20. Menutup Aurat Bagi Wanita Saat Shalat - Al ustadz Askari

    21. Syarat Shalat Menghadap Kiblat Memasuki Waktu Shalat Dan

    22. Beberapa Keadaan Manusia Ketika Menghadap Kiblat

    23. Arah Kiblat Umat Islam - Al ustadz Abu Muawiyah Askari

    24. Rukun Rukun Shalat Bab Niat - Al ustad Askari

    25. Rukun Rukun Shalat Bab Berdiri Bagi Yang Mampu - Al ustadz Askari

    26. Tata Cara Duduk Dalam Shalat - Al Ustadz Abu Muawiyah Askari

    Selengkapnya
  • Simak Kajian Tentang Penjelasan Jin, Sihir dan Ruqyah Oleh Al Ustadz Muhammad Afifuddin

    Simak Kajian Tentang Penjelasan Jin, Sihir dan Ruqyah Oleh Al Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah, beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Bayyinah Gresik, Jawa Timur, Kajian ini merupakan Daurah Islamiah yang diselenggarakan di Ma'had Al Manshurah Banjar Baru, Kalimantan Selatan.  

    Simak Kajiannya Berikut:

    Ruqyah Sihir dan Jin Bagian 1

    Ruqyah Sihir dan Jin Bagian 2

    Ruqyah Sihir dan Jin Bagian 3

    Ruqyah Sihir dan Jin Bagian 4

    Ruqyah Sihir dan Jin Bagian 5

    Ruqyah Sihir dan Jin Bagian 6

     

    Selengkapnya
  • Simak dan Download Kajian Intensif Ramadhan 1437H Pembahasan Kitab Ad Daa-u Wad Dawaa-u Oleh Al Ustadz Askari

    Sekilas Tentang Kitab Ad Daa-u Wad Dawaa-u

    Kitab Ad Daa-u Wad Dawaa-u adalah kitab yang membahas tentang Pengaruh Buruk Kemaksiatan yang ditulis oleh Ibnul Qoyyim Rahimahullah, kitab ini memuat banyak faidah dan menggugah kesadaran pembacanya akan jeleknya pengaruh kemaksiatan baik bagi keimanan maupun dalam kehidupan. 

    Kajian ini disampaikan setiap hari selama bulan Ramadhan tahun 1437H atau 2016M di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Balikpapan ba'da Ashar hingga selesai.

    Simak dan Download Kajian Intensif Ramadhan 1437H Pembahasan Kitab Ad Daa-u Wad Dawaa-u

    01. Fasal Meniggalkan Maksiat

    02. Datangnya Bencana Karena Dosa Dan Kemaksiatan

    03. Mengoreksi Diri Ketika Ditimpa Musibah

    04 Kemaksiatan Adalah Penyebab Utama Gempa

    05. Jeleknya Kemaksiatan

    06. Dampak Tidak Adanya Amar Makruf Nahi Munkar

    07. Akibat Buruk Kemaksiatan

    08. Pengaruh Kemaksiatan Yang Pernah Dilakukan

    09. Rusaknya Hati Akibat Kemaksiatan

    10. Lemahnya Iman Akibat Kemaksiatan

    11. Satu Kemaksiatan Akan Melahirkan Kemaksiatan Yang Lain

    12. Orang Yang Bangga Dengan Kemaksiatnnya Akan Sulit Untuk Bertaubat

    13. Perbuatan Kemaksiatan Akan Menimbulkan Kesialan Dunia Dan Akhirat

    14. Perbuatan Kemaksiatan Berdampak Dilaknat Pelakunya Oleh Rasulullah

    15. Perbuatan Kemaksiatan Mengakibatkan Dilaknat Oleh Rasulullah (Lanjutan)

    16. Hukuman Bagi Pelaku Kemaksiatan

    17. Kerusakan Di Muka Bumi Di Darat Dan Lautan Akibat Perbuatan Dosa Manusia

    18. Berbagai Musibah Yang Allah Munculkan Akibat Perbuatan Dosa Manusia

    19. Perbuatan Kemaksiatan Memadamkan Kecemburuan Dalam Hati Manusia

    20. Kemaksiatan Menghilangkan Rasa Malu

    21. Kemaksiatan Melemahkan Pengagungan Hamba Kepada Rabnya

    22. Kemaksiatan Menghalangi Pertolongan Allah Kepada Hamba-Nya

    23. Kemaksiatan Mengeluarkan Seseorang Dari Ruang Lingkup Ihsan

    24. Kemaksiatan Melemahkan Hati

    25. Kemaksiatan Melenyapkan Kenikmatan Dan Mendatangkan Bencana

    26. Kemaksiatan Menghantui Pelakunya

     

     

    Selengkapnya